Langit Lembata Berduka, Nasabahama” yang Ditinggalkan Aba Sadikin Tak Akan Pernah Mati

sadikin_arkian
Foto: Almarhum Sadikin Arkian, S.Ag

LEMBATA- 19.17 WITA, 11 Mei 2026. Lembata.


Malam itu, langit Lembata seperti ikut berkabung.

Angin terasa lebih dingin. Notifikasi di ribuan telepon genggam ASN Kementerian Agama Lembata berbunyi hampir bersamaan. Bukan pesan dinas. Bukan undangan rapat.


Melainkan kabar yang merobek hati.


"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun"


Kalimat itu membuat waktu seperti berhenti berdetak.


Sadikin Arkian, S.Ag., Kakan Menhaj Lembata, telah pulang untuk selamanya.


Jari-jari mendadak kaku. Mata memanas. Beberapa orang terdiam mematung, sebagian lain menunduk menahan tangis. Tak ada yang siap menerima kenyataan bahwa sosok yang pagi tadi masih bercanda di grup WhatsApp, masih menyapa dengan senyum hangat, kini dipanggil dengan nama: almarhum.


Padahal baru tiga minggu lalu, tepat 18 April 2026 di Pantai Hadakewa, beliau berdiri di hadapan kami. Senja waktu itu begitu indah. Laut memantulkan warna jingga, sementara angin memainkan ujung kopiahnya.


Dengan suara pelan namun penuh makna, beliau berkata:


“Penting adanya nasabahama. Silaturahmi yang tidak boleh berhenti sampai di sini. Perpisahan itu pasti… tapi ikatan hati sebagai saudara, jangan pernah putus.”


Kami tersenyum. Kami bertepuk tangan.

Tak seorang pun menyangka, itu adalah pesan perpisahan.


Kini, kata “nasabahama” itu berubah menjadi luka sekaligus pelipur. Sebuah warisan cinta yang ditinggalkan Aba Sadikin untuk kami semua.


Beliau tidak pergi saat beristirahat. Tidak pula dalam kenyamanan rumah.

Ia dipanggil Tuhan saat sedang menjalankan tugas negara—mengawal jamaah haji Lembata menuju Tanah Suci.


Di Hotel Swet Bell Surabaya, Jawa Timur, sakit itu datang diam-diam. Saat pikirannya masih sibuk memastikan keberangkatan jamaah, memastikan koper, paspor, dan harapan para tamu Allah tersusun rapi.


Betapa mulia jalan pulang yang Tuhan pilihkan untuknya: wafat saat melayani umat.


Kini beliau kembali ke tanah kelahirannya. Dari Surabaya menuju Kupang, lalu pulang ke Lembata bersama Lion Air, ditemani sahabatnya, Bapak Samiun. Kesetiaan juga datang dari Bapak Iren Suciadi, Asisten I Pemda Lembata, yang mendampingi sejak keberangkatan jamaah hingga detik-detik terakhir Aba Sadikin di RS Islam Surabaya.


Tangis pun pecah dalam bahasa ibu:


 “Mo maik we, alap teti nabe serah soron tai marin tabe aku... Ama Sadikin pana maan sare mai kerung alapen teti, ele aku te pelate kirin aku tegarara pana peken kame di bedela.”


Mengapa begitu cepat engkau pergi, meninggalkan kami yang masih haus tuntunanmu. Kepergianmu membelah hati kami.


Aba…


Kini kantor terasa sunyi tanpa tawamu. Kursimu kosong. Namun pesanmu tentang “nasabahama” tetap hidup di setiap lorong Kemenag Lembata.


Engkau mengajarkan bahwa persaudaraan tidak pernah mati. Jabatan bisa selesai, tetapi cinta dan pengabdian kepada umat akan tetap hidup dalam ingatan banyak orang.


Selamat jalan, Orang Baik.

Selamat jalan, Aba bagi kami semua.


Senyummu mungkin telah hilang dari pandangan, tetapi cahaya “nasabahama” yang kau nyalakan di Hadakewa akan terus kami jaga. Akan terus kami wariskan, sampai suatu hari nanti kita bertemu lagi tanpa perpisahan.


Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

Terima kasih telah menghabiskan hidup untuk melayani.


Lembata hari ini menangis, namun juga bangga pernah memilikimu.


Penulis: Sudarjo Abd Hamid

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Langit Lembata Berduka, Nasabahama” yang Ditinggalkan Aba Sadikin Tak Akan Pernah Mati
  • Langit Lembata Berduka, Nasabahama” yang Ditinggalkan Aba Sadikin Tak Akan Pernah Mati
  • Langit Lembata Berduka, Nasabahama” yang Ditinggalkan Aba Sadikin Tak Akan Pernah Mati
  • Langit Lembata Berduka, Nasabahama” yang Ditinggalkan Aba Sadikin Tak Akan Pernah Mati
  • Langit Lembata Berduka, Nasabahama” yang Ditinggalkan Aba Sadikin Tak Akan Pernah Mati
  • Langit Lembata Berduka, Nasabahama” yang Ditinggalkan Aba Sadikin Tak Akan Pernah Mati