![]() |
| Foto: Penulis Erlinda Apriana |
CERITA UANG: Tiga Nol yang Hilang
Februari 2026.
Pagi itu, Raka berdiri di depan lapak ayam di pasar tradisional. Bau rempah dan suara tawar-menawar bercampur dengan teriakan pedagang yang menawarkan harga terbaik.
“Lima puluh ribu, Mas,” kata si ibu penjual ayam.
Raka mengangguk. Ia mengeluarkan selembar Rp50.000 dari dompetnya dan menyerahkannya. Transaksi selesai. Sederhana.
Namun malam harinya, televisi di ruang tamu rumah kontrakannya menyiarkan berita besar: pemerintah berencana melakukan redominasi rupiah. Tiga angka nol akan dihapus. Rp50.000 akan menjadi Rp50.
Raka terdiam.
Ia menoleh ke ayam yang sudah dipotong dan dibumbui istrinya di dapur. “Kalau besok Rp50.000 jadi Rp50… ayam ini jadi lebih murah nggak, ya?”
Istrinya tertawa kecil. “Ya nggak lah. Cuma tulisannya saja yang berubah.”
Raka mengangguk pelan. Tapi di kepalanya, pertanyaan itu terus berputar.
Perjalanan Panjang Uang
Malam itu, Raka tidak langsung tidur. Ia teringat cerita kakeknya tentang masa lalu, tentang zaman ketika orang belum mengenal uang seperti sekarang.
“Dulu,” kata kakeknya suatu ketika, “orang tukar ayam dengan beras. Tukar garam dengan ikan.”
Raka membayangkan dirinya hidup di zaman barter. Ia punya ayam, tapi butuh beras. Penjual beras tak mau ayam, ia hanya mau ikan. Maka Raka harus mencari nelayan yang mau menukar ikan dengan ayamnya. Ayam jadi ikan, ikan jadi beras. Ribet.
Dari kerepotan itulah lahir uang—benda yang semua orang mau.
Di berbagai belahan dunia, orang memakai kerang, garam, bahkan biji kakao. Hingga akhirnya emas dan perak menjadi pilihan. Langka, tahan lama, bisa dibagi-bagi. Bernilai.
Lalu manusia bosan membawa emas yang berat. Maka lahirlah uang kertas—surat janji yang bisa ditukar dengan emas di bank.
Sampai suatu hari di tahun 1971, ketika Amerika Serikat memutuskan dolar tak lagi bisa ditukar dengan emas. Sejak saat itu, uang menjadi sesuatu yang berbeda.
Bukan lagi emas.
Bukan lagi logam.
Melainkan kepercayaan.
Raka memandang dompetnya. Selembar kertas itu berharga karena semua orang sepakat mempercayainya.
Redominasi, Devaluasi, dan Hantu Lama
Keesokan harinya di warung kopi, topik redominasi jadi bahan perdebatan.
“Jangan-jangan kayak dulu… sanering,” kata Pak Darto, pensiunan guru.
Kata itu membuat suasana mendadak sunyi.
Sanering.
Raka pernah membaca tentang tahun 1965. Saat inflasi meroket ratusan persen. Saat uang dicetak tanpa kendali. Saat pemerintah memangkas nilai uang secara paksa.
Rp1.000 menjadi Rp1.
Tabungan rakyat lenyap 99,9% dalam semalam.
Kepercayaan hancur.
“Itu beda,” sela seorang pegawai bank yang duduk di pojok. “Redominasi itu cuma potong nol. Nilainya tetap sama. Kalau dulu gaji empat juta bisa beli 200 porsi nasi goreng, setelah dipotong nol ya tetap 200 porsi.”
“Jadi nggak nambah kaya?” tanya Raka.
“Ya nggak.”
“Terus gunanya apa?”
Tak ada yang langsung menjawab.
Ilusi Angka
Beberapa hari kemudian, Raka menerima gaji bulanannya: Rp4.000.000. Ia membayangkan angka itu menjadi Rp4.000 setelah redominasi.
Terlihat lebih kecil. Lebih sederhana.
Tapi cicilan motor tetap ada. Harga beras tetap harus dibayar. Biaya sekolah anaknya tetap berjalan.
Ia tersenyum getir.
Masalah hidupnya bukan pada banyaknya angka nol.
Masalahnya adalah harga sembako yang naik.
Adiknya yang sulit dapat kerja.
Tetangganya yang usahanya bangkrut karena kekurangan modal.
Di berita, ada yang bilang redominasi membuat citra rupiah lebih “kuat”. Agar 1 dolar tidak lagi terlihat seperti Rp15.000, tapi Rp15.
Raka terkekeh pelan. “Kalau cuma soal tampilan, itu seperti mengganti label harga tanpa mengubah isi kantong.”
Ia pernah membaca tentang Zimbabwe yang berkali-kali menghapus nol dari mata uangnya, tapi inflasi tetap menggila. Ia juga tahu yen Jepang tetap dihormati meski angkanya besar.
Ternyata kekuatan mata uang bukan soal nolnya.
Melainkan ekonomi di belakangnya.
Yang Sebenarnya Dibutuhkan
Suatu sore, Raka duduk di teras rumah bersama istrinya.
“Kalau pemerintah punya uang triliunan buat ganti desain uang, sosialisasi, sistem bank… menurutmu lebih baik buat apa?” tanya istrinya.
Raka terdiam.
Ia membayangkan:
Lapangan kerja baru untuk anak-anak muda.
Modal murah untuk UMKM.
Pelatihan kerja yang sesuai kebutuhan industri.
Harga kebutuhan pokok yang stabil.
Sekolah dan rumah sakit yang terjangkau.
“Itu baru terasa,” jawabnya pelan.
Ia sadar, uang hanyalah alat. Dari barter, ke emas, ke kertas, ke angka digital di layar ponsel. Semua hanyalah sarana.
Yang menentukan kesejahteraan bukanlah angka di uang.
Melainkan apakah uang itu cukup untuk hidup layak.
Tiga Nol yang Hilang
Beberapa bulan kemudian, wacana redominasi masih dibahas. Ada yang setuju, ada yang khawatir.
Raka kini tak lagi panik. Ia sudah mengerti satu hal penting.
Jika Rp50.000 menjadi Rp50, ayam tetap ayam.
Jika gaji Rp4.000.000 menjadi Rp4.000, daya beli tetap sama.
Menghapus nol tidak otomatis menghapus kemiskinan.
Mengganti angka tidak otomatis menambah kesejahteraan.
Yang dibutuhkan negeri ini bukan sekadar uang dengan tampilan baru.
Tetapi kebijakan yang membuat uang itu benar-benar berarti:
pekerjaan tersedia, harga stabil, usaha kecil tumbuh, dan anak-anak bisa sekolah tanpa cemas.
Suatu pagi, Raka kembali ke pasar membeli ayam.
“Berapa, Bu?”
“Lima puluh,” jawab si ibu.
Raka tersenyum. Ia tahu, entah itu lima puluh ribu atau lima puluh baru, yang penting bukanlah nolnya.
Yang penting adalah:
apakah ia masih bisa membelinya tanpa takut dompetnya kosong.
Dan di situlah, ia akhirnya paham—
Kesejahteraan bukan soal angka.
Tetapi soal kehidupan yang benar-benar membaik.
—Tamat—




