Rusydi: Tambak Udang Terintegrasi Sumba Timur Harus Seimbangkan Ekonomi, Sosial dan Lingkungan
KUPANG – Rencana pembangunan tambak udang vaname terintegrasi di Kabupaten Sumba Timur mendapat perhatian luas dari berbagai kalangan. Proyek strategis nasional yang digagas pemerintah dengan nilai investasi sekitar Rp7,2 triliun tersebut dinilai memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, namun tetap harus memperhatikan aspek sosial dan lingkungan hidup.
Hal itu disampaikan Dosen Perikanan Universitas Muhammadiyah Kupang (UMK), Rusydi, S.Pi., M.Si., dalam Podcast Matalinews bersama host Cakti Flobamorinci A. Kirie, Sabtu (6/6/2026).
Menurut Rusydi, pembangunan tambak udang vaname seluas lebih dari 2.000 hektare di Sumba Timur merupakan peluang besar bagi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk menarik investasi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Saya sebagai akademisi melihat investasi ini sebagai peluang yang baik bagi NTT. Kita membutuhkan investasi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Namun, pembangunan harus tetap mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial masyarakat, dan lingkungan hidup secara seimbang," ujarnya.
Rusydi menjelaskan bahwa dari sisi ekonomi, proyek tersebut berpotensi membuka ribuan lapangan pekerjaan dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Karena itu, ia menilai masyarakat lokal harus menjadi bagian utama dalam pengelolaan dan pengembangan usaha tambak tersebut.
Ia mendorong pemerintah dan perusahaan untuk menerapkan pola kemitraan atau plasma sehingga masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga terlibat langsung dalam aktivitas ekonomi yang tercipta.
"Masyarakat harus dilibatkan sejak awal. Jangan hanya menjadi pekerja, tetapi juga menjadi bagian dari unit-unit usaha yang terhubung dengan perusahaan sehingga manfaat ekonominya benar-benar dirasakan masyarakat lokal," katanya.
Selain itu, Rusydi menekankan pentingnya memperhatikan kondisi ekologis Sumba Timur yang memiliki karakteristik tanah dan sistem hidrologi yang unik. Menurutnya, kajian lingkungan harus dilakukan secara mendalam agar aktivitas budidaya tidak menimbulkan dampak negatif terhadap ekosistem pesisir dan sumber daya air.
Dalam podcast tersebut, Rusydi juga menjelaskan bahwa budidaya udang modern menghasilkan limbah organik dan kimia seperti amonia, nitrit, dan nitrat yang berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik.
Karena itu, ia menilai keberadaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) menjadi komponen penting dalam sistem tambak terintegrasi.
"Ketika kita ingin mendapatkan nilai ekonomi dari lingkungan hidup, maka kita juga berkewajiban mengendalikan lingkungan hidup itu agar tidak rusak. Limbah budidaya harus diolah melalui IPAL sebelum dibuang ke lingkungan," tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa pembuangan limbah tanpa pengolahan dapat berdampak pada kerusakan ekosistem pesisir, termasuk mangrove, padang lamun, terumbu karang, dan berbagai biota laut lainnya.
Meski demikian, Rusydi mengajak masyarakat untuk melihat proyek tersebut secara objektif dengan tetap memberikan masukan kritis kepada pemerintah.
"Kita mendukung pembangunan dan kemajuan daerah. Namun, pengawasan terhadap aspek lingkungan dan keterlibatan masyarakat harus terus dilakukan agar manfaat pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan," pungkasnya.
Podcast tersebut menjadi bagian dari diskusi publik mengenai rencana pembangunan tambak udang vaname terintegrasi di Sumba Timur yang saat ini masih menuai beragam tanggapan dari masyarakat, akademisi, maupun pegiat lingkungan.(red)
