Gus Yusuf dari NTT: Muktamar ke-35 NU Harus Akhiri Konflik, Indonesia Timur Wajib Jadi Prioritas
![]() |
| KH. Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) berdialog dengan jajaran PWNU NTT, PCNU se-NTT, tokoh masyarakat di Kupang, Sabtu (25/7/2026). |
KOTA KUPANG – KH. Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), menegaskan bahwa Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama harus menjadi momentum rekonsiliasi nasional bagi seluruh keluarga besar NU. Menurutnya, muktamar tidak boleh hanya menjadi agenda pergantian kepemimpinan, tetapi juga menjadi jalan keluar atas konflik internal yang selama dua tahun terakhir menghambat perjalanan organisasi.
Pernyataan tersebut disampaikan Gus Yusuf kepada media ini (25/07) saat bersilaturahmi dengan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Nusa Tenggara Timur, Pengurus Cabang NU se-NTT, para tokoh masyarakat, serta keluarga besar Kerukunan Keluarga Sulawesi (K2S) di Kota Kupang, Sabtu (25/7/2026). Dalam kesempatan itu, ia juga menyerahkan bantuan untuk pembangunan Sekretariat PWNU NTT sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan organisasi di wilayah timur Indonesia.
"Muktamar harus menjadi muktamar yang solutif, yang mampu mengakhiri konflik dan mengembalikan energi NU untuk bekerja melayani umat. Selama dua tahun terakhir terlalu banyak waktu yang terbuang karena persoalan internal sehingga berbagai program organisasi di daerah terhambat, kepengurusan banyak yang belum berjalan optimal, bahkan berdampak pada semangat kader di daerah," kata Gus Yusuf.
Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026. Keputusan tersebut telah ditetapkan dalam Rapat Gabungan Harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU di Jakarta pada 7 Juli 2026.
Di hadapan para pengurus NU se-NTT, Gus Yusuf menegaskan bahwa memasuki abad kedua NU, organisasi harus kembali fokus pada pelayanan kepada umat melalui program-program yang menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung.
Ia menyebut pendidikan sebagai agenda paling mendesak. Menurutnya, NU harus menghadirkan lembaga pendidikan berkualitas di luar Pulau Jawa, mulai dari Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), hingga perguruan tinggi dan pesantren yang mampu mencetak generasi unggul.
Gus Yusuf juga mengusulkan agar pesantren-pesantren besar NU seperti Tambakberas, Tebuireng, Lirboyo, maupun Sidogiri membangun kemitraan dengan pesantren-pesantren di Indonesia Timur melalui pengiriman tenaga pendidik, pendampingan manajemen, serta pengembangan kurikulum.
"Sudah waktunya kualitas pendidikan NU yang berkembang di Jawa juga dirasakan masyarakat di NTT dan wilayah Indonesia Timur lainnya. Jangan sampai ada kesenjangan kualitas pendidikan di lingkungan NU," ujarnya.
Selain pendidikan, ia menilai pelayanan kesehatan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat juga harus menjadi prioritas. Sebagai daerah kepulauan, NTT masih menghadapi tantangan akses layanan kesehatan serta keterbatasan pembiayaan bagi pelaku usaha kecil, petani, dan nelayan.
Menurut Gus Yusuf, NU harus mampu menjadi jembatan antara masyarakat dengan pemerintah maupun dunia usaha agar akses terhadap modal, pasar, dan layanan publik semakin terbuka.
"NU tidak cukup hanya berdakwah di mimbar. NU harus hadir memberikan solusi nyata bagi kehidupan masyarakat, mulai dari pendidikan, kesehatan hingga penguatan ekonomi umat," tegasnya.
Gus Yusuf juga menilai karakter masyarakat NTT yang majemuk sangat sejalan dengan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang mengedepankan moderasi, toleransi, dan kehidupan berdampingan secara damai.
Karena itu, apabila mendapat amanah memimpin PBNU, ia berkomitmen memberikan perhatian lebih besar kepada kawasan Indonesia Timur, termasuk membuka ruang yang lebih luas bagi kader-kader terbaik dari wilayah timur untuk berkiprah dalam kepengurusan PBNU.
"Kita ingin aspirasi dari daerah tidak berhenti di daerah. Harus ada representasi Indonesia Timur di PBNU agar kebutuhan masyarakat bisa diperjuangkan langsung di tingkat pusat," katanya.
Menutup kunjungannya di Kupang, Gus Yusuf mengajak seluruh kader NU meninggalkan sekat-sekat perbedaan dan mengedepankan semangat persaudaraan.
"NU memasuki abad kedua dengan tantangan yang jauh lebih besar. Karena itu, tidak boleh lagi ada dominasi ataupun friksi. Yang kita butuhkan adalah kolaborasi. Dengan bersatu, NU akan semakin kuat dan mampu memberikan manfaat yang lebih besar bagi umat, bangsa, dan negara." (Tim)
