KUPANG, MATALINENEWS.ID – Pengembangan sumber daya manusia berbasis ekoteologi dinilai menjadi langkah penting dalam menjawab tantangan kerusakan lingkungan yang semakin meningkat di berbagai daerah di Indonesia.
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Balai Diklat Keagamaan Denpasar, Dr. KH Saprillah, dalam perbincangan di Nun Podcast yang dipandu oleh Sufyanto Minggele, Kamis (18/1447 H).
Dalam podcast tersebut, Saprillah menjelaskan bahwa konsep ekoteologi merupakan pendekatan yang menghubungkan persoalan lingkungan dengan nilai-nilai keagamaan. Menurutnya, isu ini menjadi perhatian serius pemerintah melalui kebijakan Menteri Agama Nasaruddin Umar.
“Gerakan lingkungan selama ini sering dilakukan secara parsial dan belum didorong kuat oleh agama. Padahal masyarakat Indonesia sangat responsif terhadap pendekatan keagamaan,” ujar Saprillah.
Ia menilai pendekatan ekoteologi dapat menjadi cara efektif untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga alam. Pasalnya, berbagai bencana yang terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya krisis ekologis yang perlu ditangani secara serius.
Menurut Saprillah, dalam ajaran Islam sendiri terdapat konsep hubungan yang seimbang antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Konsep tersebut dikenal dengan tiga relasi utama, yaitu hablum minallah (hubungan dengan Tuhan), hablum minannas (hubungan dengan sesama manusia), serta hablum minal alam (hubungan dengan alam).
Ia menilai selama ini gerakan organisasi keagamaan dan kemahasiswaan lebih banyak menyoroti persoalan kemanusiaan, sementara isu lingkungan belum menjadi agenda utama dalam pengkaderan.
“Padahal nilai dasarnya sudah jelas. Hubungan manusia dengan alam juga merupakan bagian dari ajaran agama,” jelasnya.
Saprillah menegaskan bahwa menjaga lingkungan seharusnya dipahami sebagai bentuk ibadah. Menurutnya, aktivitas seperti menanam pohon, menjaga kebersihan, hingga tidak membuang sampah sembarangan merupakan bagian dari tanggung jawab spiritual manusia.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa persoalan lingkungan tidak mengenal batas agama, suku, maupun organisasi. Bencana alam, kata dia, dapat menimpa siapa saja tanpa memandang identitas.
“Konsep ketuhanan boleh berbeda, tetapi matahari kita sama, bulan kita sama, dan udara yang kita hirup juga sama. Jika terjadi musibah, semua orang akan merasakannya,” katanya.
Karena itu, ia mendorong agar isu lingkungan dimasukkan dalam agenda pengkaderan organisasi keagamaan maupun lembaga pendidikan sebagai bagian dari pengembangan sumber daya manusia.
Menurutnya, langkah tersebut perlu dilakukan secara bertahap hingga akhirnya menjadi kebiasaan dan budaya masyarakat.
“Pengetahuan tentang lingkungan sebenarnya sudah cukup. Yang masih lemah adalah kesadaran kita,” tambahnya.
Di akhir perbincangan, Saprillah menegaskan bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama seluruh umat manusia.
“Isu lingkungan bukan isu sekuler. Ia adalah isu agama. Jaga alam, jaga peradaban, dan jaga manusia,” pungkasnya. (red)
