Jusuf Blegur Tekankan “Novelty” sebagai Kunci Publikasi dalam Seminar Nasional di UHAMKA Jakarta


jusuf_blegur_tekankan_novelty
Foto: Jusuf Blegur, S.Pd.,M.Pd

Jakarta — Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) Jakarta kembali menggelar Webminar Nasional dengan Tema “Strategi Cerdas Publikasi Ilmiah: Tips Menembus Jurnal Nasional dan Scopus serta Menghindari Jurnal Predator” yang menyoroti penguatan kapasitas publikasi akademik di kalangan mahasiswa, dosen, dan peneliti muda.


Dekan FKIP UHAMKA, Purnama Syae Purrohman, S.Pd., M.Pd., Ph.D., saat membuka kegiatan menyampaikan bahwa kegiatan webinar ini terlaksana berkat dukungan program UPT PPP serta kontribusi para narasumber yang patut diapresiasi. Ia menekankan pentingnya membangun pendidikan berbasis kemampuan berpikir ilmiah, di mana mahasiswa dipersiapkan menjadi guru profesional yang menguasai metode ilmiah. Menurutnya, guru yang layak mengajar adalah mereka yang terus belajar dan mampu mengajarkan proses berpikir ilmiah kepada peserta didik. Ia juga mengingatkan agar peserta tidak hanya berhenti pada keikutsertaan dalam seminar, tetapi mampu mengimplementasikan materi yang diperoleh serta terus meningkatkan kualitas penelitian demi menghadirkan solusi dalam pembelajaran.


Kegiatan ilmiah ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Dr. Jusuf Blegur, S.Pd., M.Pd., pemaparan mendalam mengenai “Alur dan strategi lolos publikasi nasional dan Scopus bagi pemula”. Kepala Unit Pelaksana Teknis Pengembangan dan Praktik Pembelajaran FKIP UHAMKA, Nurafni, S.Pd., M.Pd., yang membahas “Tips dan trik mencari referensi dan rumah jurnal terindeks Sinta anti predator” dan Kepala Devisi Pengembangan UPT PPP, Deasy Wahyu Hidayati, S.Pd., M.Pd., yang mendiskusikan “Meningkatkan kualitas karya ilmiah melalui penggunaan Mendeley”.


Masuk pada sesi pemateri, Jusuf menekankan bahwa publikasi ilmiah tidak lagi sekadar kewajiban administratif bagi mahasiswa, guru, maupun dosen, melainkan telah menjadi indikator sentral dalam pelaksanaan tri dharma serta menentukan kualitas akademik secara nasional dan global. Ia menyatakan bahwa kompetisi publikasi saat ini semakin ketat karena seluruh peneliti di nasional maupun dunia berada dalam satu arena yang sama.


“Kualitas penelitian hari ini tidak cukup hanya kuat secara metodologi, tetapi harus memiliki kontribusi nyata terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Di situlah novelty menjadi nilai jual paling tinggi dalam publikasi ilmiah, sehingga sebelum melaksanakan penelitian, mahasiswa atau dosen harus terlebih dahulu mengidentifikasi novelty dari penelitiannya” ujar Jusuf dalam pemaparannya.


Dalam sesi prolog, Jusuf menegaskan bahwa banyak artikel ilmiah gagal menembus jurnal bereputasi internasional bukan karena lemahnya data, melainkan karena minimnya kebaruan (novelty). Maka tidak ada alasan bagi peneliti untuk melek terhadap isu-isu terkini dan juga kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidangnya untuk menemukan research gap. Menurutnya, reviewer jurnal Scopus sangat ketat dalam menilai kontribusi kebaruan suatu penelitian.


Ia menjelaskan bahwa novelty tidak selalu berarti penemuan besar, tetapi bisa berupa penguatan konteks, pendekatan baru, pengujian ulang teori dalam situasi yang berbeda, atau bahkan menelaah dan menerapkan kebijakan baru agar sesuai dengan konteks.


“Kesalahpahaman umum peneliti pemula adalah mengira novelty harus selalu revolusioner. Padahal, penguatan konteks lokal dengan pendekatan baru saja sudah bisa menjadi kontribusi ilmiah yang signifikan, bahkan dalam beberapa kasus kami mengembangkan instrumen yang disesuaikan dengan regulasi baru pemerintah,” tambahnya.


Salah satu bagian yang paling ditekankan Jusuf adalah kemampuan peneliti dalam mengidentifikasi research gap secara sistematis. Ia memaparkan beberapa jenis kesenjangan penelitian yang harus dipahami oleh peneliti pemula, yakni: Evidence gap: minimnya bukti pendukung suatu teori, knowledge gap: kurangnya data pada wilayah atau konteks tertentu. empirical gap: teori yang belum didukung data lapangan yang memadai, methodological gap: keterbatasan metode penelitian sebelumnya, population gap: kelompok subjek yang belum terwakili, instrument gap: keterbatasan alat ukur, practical gap: hasil penelitian belum efektif di lapangan


Menurut Jusuf, kemampuan membaca gap tersebut menjadi fondasi utama dalam membangun argumen ilmiah yang kuat tentang novelty penelitian. Dengan mengetahui reseach gap, peneliti telah menemukan keutamaan alasan melakukan riset. Tanpa research gap yang jelas dan justifikasi yang kritis membuat nilai jual penelitian kita diperdebatkan.


“Banyak penelitian berhenti pada deskripsi masalah tanpa mampu menunjukkan di mana letak kesenjangan ilmiahnya. Padahal di situlah nilai akademik sebuah riset dibangun. Ini bisa dilihat dari kekuatan peneliti dalam menelaah riset-riset terdahulu dalam mengatasi masalah penelitian,” tegasnya.


Sejumlah peserta seminar menyebut bagian ini sebagai salah satu sesi paling kritis, karena Jusuf secara terbuka mengkritik kecenderungan peneliti pemula yang hanya mengulang penelitian sebelumnya tanpa inovasi konseptual.


Dalam bagian lain, Jusuf menekankan pentingnya perencanaan sebelum menulis artikel ilmiah. Ia menyarankan peneliti untuk terlebih dahulu memahami fokus dan ruang lingkup jurnal target, termasuk gaya penulisan, template, serta artikel-artikel yang telah dipublikasikan.


Ia juga menyoroti penggunaan aplikasi manajemen referensi seperti Mendeley atau Zotero untuk memastikan konsistensi sitasi.


“Jangan menulis dulu baru mencari jurnal. Itu kebiasaan yang sering membuat kita kerja dobel dan salah satu potensi artikel ditolak. Jurnal tujuan harus menjadi peta sejak awal penelitian. Upaya ini akan menavigasi peneliti untuk menyelesaikan pekerjaan yang sesuai dengan kebutuhan jurnal tujuan, karena kita ingin melamar, maka kita harus tahu selingkung dan mahar jurnal” katanya.


Saat menyusun manuskrip penelitian, peneliti Universitas Kristen Artha Wacana ini menguraikan struktur IMRAD (Introduction, Method, Results, and Discussion) sebagai kerangka utama penulisan artikel ilmiah internasional. Ia menambahkan bahwa elemen judul, abstrak, dan kata kunci juga harus disusun secara strategis agar mudah terindeks mesin pencarian, seperti google scholar.


Jusuf menjelaskan bahwa bagian pendahuluan harus mampu menggambarkan empat variabel utama. Masing-masing tren variabel masalah, merumuskan masalah penelitian, mengkaji penelitian terdahulu terhadap penyelesaian masalah penelitian, dan kebaruan (variabel solusi) dan tujuan penelitian.


Pendahuluan bukan tempat bercerita panjang lebar, tetapi ruang untuk membangun urgensi ilmiah yang jelas dan novelty yang kuat.


Ada kisi-kisi menulis pendahuluan yang dapat diujicobakan oleh peserta, Jusuf menegaskan bahwa penyusunan kerangka penelitian yang kuat harus dimulai dari pemetaan tren variabel masalah secara komprehensif. Menurutnya, terdapat tiga sub-indikator penting, yakni kemampuan mengulas tren variabel masalah sebagai bukti bahwa peneliti mengikuti perkembangan isu terkini di bidang keilmuan atau kepakarannya, penyusunan definisi konseptual variabel masalah yang jelas agar pembaca memahami objek kajian yang diteliti, serta penegasan signifikansi variabel penelitian secara tajam karena hanya persoalan yang memiliki manfaat nyata yang layak untuk dikaji.


Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dalam merumuskan masalah penelitian terdapat empat sub-indikator esensial yang tidak dapat diabaikan. Hal tersebut mencakup formulasi masalah secara jelas, penyajian data empiris baik dalam konteks lokal maupun internasional sebagai dasar penguatan masalah (data kuantitatif maupun kualitatif), analisis dampak negatif dari persoalan yang diteliti guna mempertegas urgensi penelitian, serta identifikasi faktor-faktor penyebab masalah yang menjadi titik awal pencarian variabel solusi atau novelty penelitian.


Pada bagian lain, Jusuf juga menyoroti pentingnya kajian terhadap penelitian terdahulu sebagai bagian dari proses akademik yang sistematis. Ia menyebut terdapat empat sub-indikator kritis, yakni identifikasi variabel yang digunakan dalam penelitian sebelumnya seperti metode, populasi, instrumen, maupun regulasi; ringkasan temuan utama untuk menilai efektivitas atau “kesaktian” hasil penelitian tersebut; serta analisis terhadap faktor dominan yang memengaruhi hasil penelitian terdahulu berdasarkan indikator-indikator yang digunakan.


Terakhir, ia menekankan aspek kebaruan (variabel solusi) dan tujuan penelitian sebagai indikator penentu kualitas riset. Menurutnya, penelitian tanpa novelty hanya akan menjadi pengulangan, dan jurnal bereputasi tidak mencari pengulangan, mereka mencari kontribusi baru. Untuk itu, ia mengarahkan peserta untuk memperhatikan empat sub-indikator penting, yaitu identifikasi kesenjangan (research gap) dari studi sebelumnya agar penelitian memiliki arah yang jelas, rasionalisasi urgensi penelitian agar layak dipublikasikan, penjelasan kontribusi dan solusi yang ditawarkan dengan menitikberatkan pada aspek kebaruan, serta perumusan tujuan penelitian secara tegas, jelas, dan terukur agar penelitian tidak sekadar mengulang kajian sebelumnya.


Jusuf juga menyoroti pentingnya ketelitian dalam penyusunan metode penelitian sebagai fondasi utama dalam menghasilkan karya ilmiah yang kredibel.


Ia menjelaskan bahwa kesesuaian antara rumusan masalah, tujuan, dan desain penelitian merupakan hal mendasar yang tidak boleh diabaikan. Kalau tiga hal itu tidak selaras, penelitian bisa kehilangan arah dan sulit dipertanggungjawabkan.


Lebih lanjut, Jusuf menekankan bahwa pemilihan desain penelitian harus disertai dengan justifikasi yang kuat agar memiliki dasar ilmiah yang jelas. Ia juga menyoroti pentingnya prosedur penelitian yang disusun secara sistematis dan rinci, sehingga memungkinkan penelitian tersebut direplikasi oleh pihak lain, karena penelitian yang baik itu membuka ruang untuk pihak lainnya melakukan pembuktian ulang.


“Uji validitas dan reliabilitas instrumen harus dilakukan dengan mengacu pada teori yang relevan. Ini penting untuk memastikan data yang dihasilkan benar-benar dapat dipercaya. Dengan demikian, peneliti perlu memberikan informasi yang jelas tentang teori yang mendasari pengembangan instrumen, bagaimana indikatornya, dan mengapa indikator tersebut mampu menangkap fenomena variabel penelitian, dan tentu aspek psikometrik instrumen harus jelas,” jelas Jusuf.


Menurutnya, kesesuaian teknik analisis data dengan jenis data yang digunakan juga menjadi faktor penting dalam menghasilkan kesimpulan yang akurat. Ia turut menekankan penggunaan perangkat lunak atau aplikasi analisis data (seperti SPSS, SmartPLS, atau NVivo sesuai kebutuhan penelitian) sebagai bagian dari upaya meningkatkan ketepatan pengolahan data. Di sisi lain, penetapan parameter pengujian, kriteria, atau klasifikasi harus dilakukan secara konsisten agar interpretasi hasil tidak menimbulkan kerancuan. Semua itu harus dijalankan dengan tetap mematuhi etika penelitian. Integritas adalah kunci dalam dunia akademik.


Saat menyusun hasil penelitian, Jusuf menyoroti pentingnya penyajiannya harus runtut dan mudah dipahami oleh publik maupun kalangan akademik.


Menurutnya, hasil penelitian harus disusun berdasarkan hipotesis atau pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan sejak awal. Penyajian seperti ini akan membantu pembaca memahami alur logika penelitian serta keterkaitan antara tujuan dan temuan yang dihasilkan.


“Deskripsi data penelitian perlu disampaikan secara sistematis agar tidak menimbulkan kebingungan. Selain itu, penyajian data empiris—termasuk data mikro yang diperoleh dari instrumen penelitian—dinilai penting sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas ilmiah. Perlunya identifikasi variabel atau dimensi yang paling berpengaruh dalam penelitian. Peneliti harus mampu menunjukkan faktor mana yang memiliki dampak signifikan, sehingga hasil penelitian tidak hanya deskriptif, tetapi juga analitis,” jelasnya.


Lebih lanjut, ia menyebut bahwa sintesis makna utama dari hasil analisis data menjadi kunci dalam menarik kesimpulan yang relevan. Proses ini, kata dia, harus mampu merangkum temuan menjadi insight yang bernilai tanpa menghilangkan substansi data.


Tak kalah penting, visualisasi data juga menjadi perhatian. Ia menilai penyajian grafik, tabel, atau bagan harus informatif, jelas, dan tidak redundan.


“Visualisasi yang baik akan memudahkan pembaca dalam menangkap inti data tanpa harus membaca keseluruhan angka secara detail. Kualitas penelitian tidak hanya ditentukan oleh proses pengumpulan data, tetapi juga oleh cara hasil penelitian tersebut disajikan kepada publik,” terang Jusuf.


Pada bagian pembahasan, hasil penelitian tidak boleh berhenti pada penyajian data semata, tetapi harus dilengkapi dengan analisis komparatif yang mendalam.


“Peneliti perlu membandingkan hasil temuannya dengan penelitian terdahulu guna melihat posisi dan kontribusi studi tersebut dalam khazanah ilmiah. Perbandingan ini penting untuk mengetahui apakah hasil penelitian menguatkan, memperluas, atau justru berbeda dari temuan sebelumnya,” ungkap Jusuf.


Tambahnya, analisis terhadap kesesuaian maupun perbedaan dengan studi sebelumnya harus dilakukan secara kritis dan objektif. Hal ini mencakup identifikasi faktor-faktor yang mungkin memengaruhi perbedaan hasil, seperti konteks penelitian, metode yang digunakan, hingga karakteristik responden.


“Setiap temuan perlu disertai dengan penjelasan yang berbasis justifikasi ilmiah. Peneliti harus mampu menjelaskan mengapa suatu fenomena terjadi, bukan hanya melaporkan apa yang ditemukan, dinilai nilai kritis dari suatu hasil penelitian dan bagaimana kontribusinya dalam etalase perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi” katanya.


Ia juga menyoroti pentingnya merumuskan implikasi dari hasil penelitian, baik secara teoritis maupun praktis. Dari sisi teoritis, hasil penelitian diharapkan dapat memperkaya atau mengembangkan konsep yang sudah ada. Sementara itu, dari sisi praktis, temuan penelitian diharapkan dapat memberikan rekomendasi yang aplikatif bagi pemangku kepentingan. Dengan demikian, penelitian tidak hanya berhenti sebagai dokumen akademik, tetapi juga memiliki nilai guna yang nyata bagi masyarakat.


Menyusun bagian simpulan dalam sebuah penelitian meskipun ringkas, namun tetap mencerminkan keseluruhan hasil kajian.


“Simpulan perlu menegaskan ketercapaian tujuan penelitian yang telah dirumuskan sejak awal. Menunjukkan secara jelas apakah tujuan penelitian telah tercapai, sehingga pembaca dapat menilai keberhasilan studi tersebut. Selain itu, simpulan juga harus memuat ringkasan data atau temuan utama yang menjadi dasar penarikan kesimpulan. Hal ini penting agar simpulan tidak terkesan spekulatif, melainkan benar-benar berangkat dari hasil analisis yang telah dilakukan,” ungkap alumnus Universitas Pendidikan Indonesia tersebut.


Penekanan Jusuf terhadap pentingnya simpulan dalam sebuah penelitian menunjukkan bahwa bagian ini sering kali masih dipandang sebelah mata oleh peneliti. Padahal, simpulan merupakan ruang strategis untuk menegaskan kembali esensi penelitian sekaligus menunjukkan kontribusi nyata yang dihasilkan.


“Dalam praktiknya, banyak simpulan yang hanya mengulang temuan tanpa memberikan interpretasi mendalam atau arah ke depan. Hal ini membuat penelitian kehilangan daya dorong untuk berkembang lebih lanjut. Padahal, melalui simpulan yang tajam, peneliti dapat menegaskan posisi studinya di tengah khazanah keilmuan sekaligus menawarkan solusi praktis,” ujar Jusuf.


Lebih dari itu, keberadaan rekomendasi penelitian lanjutan menjadi indikator bahwa penelitian tidak berhenti sebagai produk akhir, melainkan bagian dari proses ilmiah yang berkelanjutan. Dengan demikian, simpulan yang berkualitas bukan hanya penutup, tetapi juga jembatan menuju inovasi dan pengembangan ilmu di masa depan.


Dengan pendekatan yang sistematis dan kritis, paparan Dr. Jusuf Blegur dalam forum akademik UHAMKA ini menegaskan kembali bahwa publikasi ilmiah bukan hanya soal menulis, tetapi tentang membangun kontribusi pengetahuan yang bermakna dan terukur di tingkat nasional dan global.

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Jusuf Blegur Tekankan “Novelty” sebagai Kunci Publikasi dalam Seminar Nasional di UHAMKA Jakarta
  • Jusuf Blegur Tekankan “Novelty” sebagai Kunci Publikasi dalam Seminar Nasional di UHAMKA Jakarta
  • Jusuf Blegur Tekankan “Novelty” sebagai Kunci Publikasi dalam Seminar Nasional di UHAMKA Jakarta
  • Jusuf Blegur Tekankan “Novelty” sebagai Kunci Publikasi dalam Seminar Nasional di UHAMKA Jakarta
  • Jusuf Blegur Tekankan “Novelty” sebagai Kunci Publikasi dalam Seminar Nasional di UHAMKA Jakarta
  • Jusuf Blegur Tekankan “Novelty” sebagai Kunci Publikasi dalam Seminar Nasional di UHAMKA Jakarta