Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Indeks Berita

Ketua Umum DPD IMM NTT Soroti Krisis Pendidikan: Mahasiswa Diminta Berani Lawan Pembungkaman

Kamis, 12 Maret 2026 | Maret 12, 2026 WIB Last Updated 2026-03-11T19:17:55Z

dpd_imm_ntt_soroti_pendidikan_ntt_matalinenews_dpd_imm_ntt
Host Mutmainna Darajad Latif (kiri) berbincang dengan Ketua Umum DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah NTT, Cakti Flobamorrinci A Kirie, dalam podcast Mata Line News mengenai tantangan pendidikan dan keberanian mahasiswa bersuara.

KUPANG, MATALINENEWS.ID
– Persoalan pendidikan di Nusa Tenggara Timur kembali menjadi sorotan dalam podcast yang disiarkan melalui kanal matalinenews Rabu (30/01/26). Dalam diskusi tersebut, Ketua Umum DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah NTT, Cakti Flobamorrinci A Kirie, mengkritisi berbagai persoalan pendidikan serta menyoroti pentingnya keberanian mahasiswa menyuarakan kebenaran.


Podcast yang dipandu oleh host Mutmainna Darajad Latif itu membahas kondisi pendidikan di NTT yang menurut data Badan Pusat Statistik tahun 2024 menempati posisi ke-33 dari 34 provinsi di Indonesia.


Dalam perbincangan tersebut, Cakti menegaskan bahwa mahasiswa tidak boleh takut untuk menyampaikan aspirasi, meskipun terkadang ada tekanan atau intervensi dari pihak kampus ketika mahasiswa ingin turun ke jalan menyuarakan tuntutan.


“Kalau teman-teman merasa hal itu benar, apapun rintangan dan batasannya, tabrak saja dan suarakan. Jangan pernah takut,” ujarnya.


Menurutnya, kampus seharusnya menjadi ruang yang mendorong lahirnya pemikiran kritis, bukan justru membatasi kebebasan mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi.


Cakti juga menyoroti fenomena di sejumlah perguruan tinggi di mana mahasiswa yang aktif menyuarakan kritik terkadang mendapat tekanan, seperti ancaman terkait nilai akademik atau kelulusan.


Ia menilai kondisi tersebut sebagai bentuk pembungkaman intelektual yang dapat menghambat perkembangan nalar kritis mahasiswa.


“Jika kampus lebih takut kepada kekuasaan politik dibandingkan berpihak pada kebenaran, maka itu adalah bentuk kemunduran dunia pendidikan,” katanya.


Selain itu, ia juga mengkritik fenomena mahasiswa yang terlalu fokus mengejar nilai akademik atau indeks prestasi kumulatif (IPK) tanpa memperhatikan realitas sosial yang terjadi di masyarakat.


Menurutnya, mahasiswa seharusnya tidak hanya menjadi individu berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial terhadap berbagai persoalan di sekitarnya.


“Mahasiswa yang hanya mengejar IPK tanpa memikirkan realitas sosial adalah intelektual yang sunyi, intelektual yang tidak berdampak bagi masyarakat,” tegasnya.


Dalam diskusi tersebut, Cakti juga menyinggung persoalan akses pendidikan di Indonesia, khususnya di NTT. Ia mengutip data dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang menyebut masih ada jutaan anak di Indonesia yang belum dapat mengakses pendidikan secara layak.


Kondisi tersebut menurutnya menunjukkan bahwa pendidikan masih menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian dari pemerintah, kampus, dan masyarakat.


Di akhir diskusi, Cakti menyampaikan pesan kritis mengenai sistem pendidikan yang menurutnya belum sepenuhnya berpihak pada kesejahteraan masyarakat.


“Kalau pendidikan gagal, jangan tanya siapa yang menyebabkan kegagalan itu. Tanyakan siapa yang diuntungkan dari kegagalan tersebut,” ujarnya.


Ia menambahkan bahwa selama pendidikan masih dipengaruhi kepentingan politik dan birokrasi yang nyaman dengan sistem yang ada, mahasiswa akan terus menghadapi tantangan besar dalam memperjuangkan perubahan.


Podcast tersebut menjadi ruang refleksi bagi berbagai pihak untuk kembali melihat kondisi pendidikan di NTT dan mendorong peran mahasiswa sebagai agen perubahan dalam memperjuangkan sistem pendidikan yang lebih adil dan berkualitas. (red)