MATALINENEWS.ID- Mahasiswa sejak lama diposisikan sebagai kelompok terdidik yang memiliki peran penting dalam kehidupan sosial dan kebangsaan. Mereka kerap disebut sebagai agen perubahan, penjaga nalar kritis, dan penyambung suara masyarakat. Namun, berbagai catatan tokoh intelektual Indonesia menunjukkan bahwa peran tersebut perlahan mengalami pergeseran. Mahasiswa zaman sekarang dihadapkan pada sejumlah “penyakit” yang berpotensi melemahkan fungsi sosialnya.
Salah satu penyakit paling menonjol adalah apatisme sosial. Soe Hok Gie dalam Catatan Seorang Demonstran dengan tegas mengkritik mahasiswa yang bersikap masa bodoh terhadap persoalan rakyat. Mahasiswa semakin jarang terlibat dalam isu sosial, ketimpangan, dan ketidakadilan. Kampus tidak lagi dipandang sebagai ruang kesadaran kritis, melainkan sekadar tempat menuntaskan kewajiban akademik demi selembar ijazah.
Selain apatis, muncul pula intelektualisme palsu. Mochtar Lubis pernah menggambarkan kaum terpelajar sebagai kelompok yang cerdas secara teori, tetapi lemah dalam keberanian moral. Fenomena ini masih relevan hingga kini. Mahasiswa sering tampil kritis dalam diskusi atau tulisan, tetapi memilih diam ketika harus bersikap secara nyata. Pengetahuan tidak digunakan sebagai alat perjuangan, melainkan berhenti pada wacana.
Penyakit lainnya adalah pragmatisme berlebihan. Nurcholish Madjid mengingatkan bahwa pendidikan tinggi seharusnya membentuk manusia yang berprinsip dan beretika. Namun, realitas menunjukkan bahwa banyak mahasiswa memandang kuliah hanya sebagai jalan menuju pekerjaan dan stabilitas ekonomi. Aktivisme dan idealisme dianggap tidak penting jika tidak memberi keuntungan langsung. Cara pandang ini membuat nilai-nilai moral dan tanggung jawab sosial semakin terpinggirkan.
Franz Magnis-Suseno juga menyoroti adanya krisis identitas intelektual di kalangan mahasiswa. Banyak mahasiswa tidak lagi memahami perannya sebagai kaum terdidik yang seharusnya bersikap kritis dan mandiri. Akibatnya, mereka mudah terbawa arus opini populer dan kepentingan sesaat, tanpa memiliki sikap yang jelas dan konsisten.
Di era digital, kondisi ini diperparah oleh budaya instan dan dangkal dalam berpikir. Goenawan Mohamad melalui berbagai Catatan Pinggir mengingatkan bahwa tradisi intelektual membutuhkan kesabaran dan kedalaman. Namun, mahasiswa kini lebih terbiasa dengan informasi singkat dan serba cepat. Membaca secara mendalam, berdiskusi dengan argumen kuat, dan berpikir reflektif semakin jarang dilakukan.
Ketergantungan pada teknologi tanpa literasi kritis juga menjadi persoalan serius. Informasi dari media sosial sering diterima begitu saja tanpa verifikasi. Akibatnya, mahasiswa mudah terjebak dalam opini dangkal dan kehilangan kemampuan analisis yang seharusnya menjadi ciri utama kaum intelektual.
Berbagai kritik dari para tokoh tersebut sejatinya bukan untuk menyudutkan mahasiswa, melainkan sebagai peringatan. Mahasiswa tetap memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan moral dan intelektual bangsa. Namun, hal itu hanya dapat terwujud jika mahasiswa mau keluar dari sikap apatis, menumbuhkan keberanian moral, serta menghidupkan kembali tradisi berpikir kritis dan bertanggung jawab.
Jika mahasiswa mampu merefleksikan kritik ini secara jujur, maka kampus tidak hanya akan melahirkan lulusan yang siap kerja, tetapi juga manusia yang sadar akan perannya dalam memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan.
