| Foto Penulis: Fatmawati H.A. Zakariah (Magister Pedagogi, Universitas Muhammadiyah Malang) adalah guru SD Muhammadiyah 2 Kupang. |
Kota Kupang- Di tengah keterbatasan sarana belajar di sekolah dasar, kreativitas guru menjadi penentu hidup-matinya pembelajaran. Di Kupang, sejumlah guru mulai mengubah cara mengajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dengan pendekatan berbasis proyek. Anak-anak tak lagi duduk diam mendengarkan teori, tetapi sibuk membuat model tangan manusia dari kardus dan sedotan sambil memahami bagaimana tubuh mereka bergerak.
Pemandangan ini terasa segar di tengah rutinitas belajar yang sering kali monoton. Pembelajaran berbasis proyek atau Project Based Learning (PjBL) memberi ruang bagi anak-anak untuk belajar melalui pengalaman nyata. Mereka tak hanya menghafal istilah otot, tulang, atau saraf, tetapi menemukan sendiri hubungan antarkonsep melalui kegiatan yang mereka lakukan.
Dari Hafalan Menuju Pengalaman
Selama ini, pembelajaran IPA di sekolah dasar masih cenderung berpusat pada guru. Anak mendengar, mencatat, lalu diuji lewat soal pilihan ganda. Akibatnya, banyak siswa hafal teori, tetapi tidak paham maknanya. Mereka tahu bahwa otak mengatur gerak tubuh, namun sulit membayangkan bagaimana proses itu terjadi.
Melalui pendekatan proyek, konsep yang abstrak dapat diubah menjadi konkret. Saat anak membuat replika tangan dari bahan sederhana, mereka tidak hanya berkreasi tetapi juga berpikir ilmiah. Setiap kali menarik benang dan melihat jari karton itu bergerak, muncul rasa kagum dan penasaran. “Oh, begini cara tangan kita bisa bergerak,” ujar salah satu siswa dengan mata berbinar.
Momen sederhana itu memperlihatkan perubahan besar dalam cara anak belajar. Mereka belajar melalui melakukan (learning by doing)—sebuah prinsip penting dalam pendidikan modern.
Perubahan pendekatan ini juga menuntut peran baru dari guru. Tidak lagi sebagai satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan sebagai fasilitator yang menuntun siswa menemukan jawaban sendiri. Guru menyiapkan pertanyaan pemantik, membimbing proses diskusi, dan membantu anak menarik kesimpulan dari hasil pengamatan mereka.
Dengan cara ini, suasana kelas menjadi lebih hidup. Anak-anak aktif bertanya, berdiskusi, bahkan saling mengoreksi dengan sopan. Guru tidak kehilangan otoritas, tetapi justru mendapatkan posisi yang lebih bermakna sebagai pendamping belajar yang inspiratif.
Tentu, penerapan PjBL tidak selalu mudah. Ada kendala waktu, bahan, dan kemampuan teknis yang beragam. Namun di balik keterbatasan itu, justru lahir kreativitas. Guru di Kupang banyak memanfaatkan barang bekas—kardus, botol, sedotan—sebagai alat peraga. Dari situ, anak-anak belajar bahwa ilmu pengetahuan bisa hadir dari lingkungan sekitar, bukan hanya dari laboratorium atau buku pelajaran.
Menghidupkan Semangat Kurikulum Merdeka
Apa yang dilakukan para guru ini sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka yang kini diterapkan di seluruh Indonesia. Kurikulum ini mendorong pembelajaran kontekstual, kolaboratif, dan berpusat pada siswa. Namun, kebijakan ini tidak akan bermakna jika guru tidak berani berinovasi di ruang kelas.
Inovasi tidak selalu berarti menggunakan teknologi canggih. Dalam banyak kasus, kreativitas justru lahir dari keterbatasan. Guru yang mampu mengubah bahan sederhana menjadi media belajar efektif sesungguhnya sedang menjalankan esensi dari pendidikan merdeka—membebaskan cara berpikir dan belajar anak.
Kupang memiliki potensi besar untuk menjadi contoh praktik baik pembelajaran kontekstual di wilayah timur Indonesia. Banyak guru muda yang bersemangat, siswa yang antusias, dan komunitas sekolah yang mulai terbuka terhadap perubahan. Yang dibutuhkan hanyalah dukungan kebijakan dan ruang bereksperimen yang lebih luas bagi guru.
Belajar yang Bermakna
Belajar sains seharusnya tidak membuat anak takut, tetapi justru menumbuhkan rasa ingin tahu. PjBL memberi kesempatan bagi siswa untuk bereksperimen, gagal, mencoba lagi, dan menemukan sendiri kebenaran ilmiah. Dalam proses itu, mereka tidak hanya belajar sains, tetapi juga belajar bekerja sama, berpikir kritis, dan menghargai pendapat orang lain.
Jika pola seperti ini terus dikembangkan, pendidikan di Kupang tidak lagi dipandang sebagai beban, tetapi sebagai ruang tumbuh yang menggembirakan. Anak-anak tidak hanya belajar untuk lulus ujian, tetapi belajar untuk memahami dunia dan dirinya sendiri.
Pendidikan yang bermakna tidak selalu bergantung pada fasilitas mewah. Yang jauh lebih penting adalah kemauan guru untuk berinovasi dan keberanian sekolah memberi ruang bagi pembelajaran kreatif.
Kupang sudah memulai langkah kecil menuju perubahan itu. Saat anak-anak membuat replika tangan dari kardus dan tersenyum bangga melihat hasilnya, sesungguhnya mereka sedang membangun masa depan pendidikan yang lebih hidup, kontekstual, dan penuh makna.
Tentang Penulis:
Fatmawati H.A. Zakariah (Magister Pedagogi, Universitas Muhammadiyah Malang) adalah guru SD Muhammadiyah 2 Kupang.



