Guru: Pilar Peradaban Menuju Indonesia Emas 2045
![]() |
MATALINENEWS.ID- Salah satu bangsa modern yang sangat menghargai profesi guru adalah Jepang. Mereka menyadari bahwa guru berkualitas merupakan kunci utama keberhasilan pembangunan, baik di tingkat nasional maupun daerah. Ungkapan Jepang “Sensei no on wa yama yori mo takai, umi yori mo fukai” menggambarkan betapa tinggi penghargaan tersebut—jasa guru lebih tinggi dari gunung dan lebih dalam dari lautan. Bahkan setelah tragedi bom di Hiroshima dan Nagasaki, pertanyaan pertama Kaisar Jepang adalah: berapa banyak guru yang selamat.
Berbanding terbalik dengan itu, dalam situasi saat ini, profesi guru di masyarakat kita belum sepenuhnya dipandang sebagai profesi yang benar-benar profesional. Guru sering hanya diukur dari kemampuan membuat siswa membaca, menulis, berhitung, atau lulus ujian. Di era digitalisasi yang terus berkembang, masyarakat juga mulai menilai guru bukan hanya dari kompetensi dasar, tetapi dari kemampuan beradaptasi, berinovasi, dan menghadapi perubahan.
Eksistensi guru yang mandiri, kreatif, dan inovatif menjadi kunci penting dalam membangun masa depan bangsa. Meski secara budaya guru masih dihormati di Indonesia, tidak dapat dipungkiri telah terjadi penurunan kualitas penghargaan dibandingkan masa lalu. Ironisnya, guru terdahulu yang hidup tanpa kemudahan teknologi justru menunjukkan integritas dan dedikasi yang sangat tinggi.
Permasalahan guru dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, faktor eksternal seperti sistem pendidikan guru yang tertinggal, kesejahteraan yang belum memadai, menurunnya status sosial, serta dinamika birokrasi pendidikan. Kedua, faktor internal, yakni kelemahan akademik dan pedagogik, seperti kurangnya penguasaan materi serta kemampuan membimbing siswa dalam proses pendewasaan. Fenomena kenakalan remaja, termasuk konflik antarpelajar, menjadi cerminan tantangan yang harus dihadapi bersama.
Menjadi guru adalah tugas mulia sekaligus berat. Tidak semua orang mampu memikulnya. Oleh karena itu, sudah seharusnya semua pihak memberikan penghargaan dan dukungan yang layak. Beban guru semakin hari semakin kompleks, namun mereka tetap dituntut untuk menjalankan proses pendidikan secara optimal.
Diperlukan reaktualisasi peran guru serta gerakan bersama untuk memulihkan citra dan martabat profesi ini. Guru juga harus terus meningkatkan profesionalisme agar mampu menjalankan perannya sebagai penyemai intelektual, penanam nilai kemanusiaan, dan pembimbing moral generasi bangsa.
Dengan demikian, guru akan tetap menjadi garda terdepan dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Guru, idolaku.
Pahlawan tanpa tanda jasa.
Penulis: Supriadi Djae (Ketua DPD PSI Kabupaten Alor)
