
Foto: Ilustrasi
MATALINENEEWS.ID- Senja mulai temaram. Pantulan warna merah jingga merona di ufuk barat.
Sebelum benar-benar beranjak ke peraduannya, sang mentari seakan menjulurkan belalai cahaya, menyapa kembang-kembang liar yang mulai merunduk mencium tanah, menghormati malam yang segera menyelimuti.
Di atas sebuah titian bambu, langkah itu terhenti.
Pandangan menunduk, menyimak fenomena alam yang terhampar di bawahnya.
Air tampak diam—tak mengalir, bening, tenang.
Ia terpaku cukup lama, seolah tak percaya pada apa yang dilihatnya: bayangan wajahnya terpantul jelas di permukaan air yang jernih. Ia pun tersadar, seandainya air di bawah titian bambu itu mengalir, niscaya wajahnya takkan tampak hari itu.
Di situlah makna tersirat mulai berbicara.
Filsuf besar Tiongkok, Konfusius, pernah menyatakan bahwa manusia tak akan mampu melihat bayangannya sendiri pada air yang mengalir. Sebaliknya, pada air yang tenang dan jernih, wajah akan terpantul dengan jelas. Sebuah metafora sederhana namun sarat makna tentang kehidupan manusia.
Mengalir dan diam adalah perlambang dua dimensi hakiki kehidupan: aksi dan refleksi.
Ibnu Rusyd—filsuf Islam yang dikenal di Barat sebagai Averroes—sebagaimana dikutip Sidi Gazalba dalam esai filsafatnya, menekankan bahwa salah satu keterbatasan manusia adalah kebutuhannya akan refleksi. Manusia memerlukan jeda, keheningan, dan perenungan untuk memahami dirinya sendiri.
Sejarah spiritual umat manusia mencatat hal itu dengan jelas. Para nabi dan insan suci membutuhkan waktu menyendiri ketika hendak mengemban tugas besar dari Tuhan. Nabi Muhammad SAW berkhalwat di Gua Hira sebelum menerima wahyu. Nabi Ibrahim AS menepi di bukit sepi, menengadah kepada Sang Khalik demi menyadarkan ayahnya dari sesembahan yang keliru. Siti Maryam menyendiri di bawah pohon kurma untuk menghindari ejekan kaum yang tak beriman. Siddharta Gautama pun menyepi di tepi Sungai Gangga, mencari bisikan makna kehidupan.
Air yang diam melambangkan refleksi, sedangkan air yang mengalir melambangkan aksi.
Aksi mengarahkan manusia ke luar dirinya—menghadapi dunia, bekerja, bergerak, dan berinteraksi. Refleksi sebaliknya, mengarahkan manusia ke dalam—menyapa nurani, menimbang makna, dan mendengarkan suara hati.
Kehidupan yang utuh menempatkan aksi dan refleksi dalam porsi yang seimbang. Keduanya sama-sama penting dalam proses kemanusiaan seseorang.
Aksi yang berlebihan tanpa refleksi kerap menyeret manusia ke dalam jebakan aktivisme semu: serba sibuk, jadwal padat, tetapi mekanis. Keputusan hidup diambil-alih oleh sistem di luar dirinya. Ia menjelma manusia super sibuk, namun kehilangan bobot spiritual dalam kerja dan kesibukannya.
Pada titik tertentu, lahirlah paradoks batin: sepi di tengah kegaduhan, miskin di tengah kelimpahan, dan gelisah di tengah segala ketercukupan.
Sebaliknya, refleksi tanpa aksi justru menjerumuskan manusia ke dalam kemalasan, kebekuan, bahkan stagnasi—seperti jasad tanpa denyut kehidupan.
Karena itu, momentum pergantian tahun semestinya menjadi ruang refleksi. Menjelang berakhirnya 2025, kita diajak menengok kembali perjalanan aksi sepanjang tahun: apa yang telah dicapai, apa yang terlewat, dan apa yang perlu diperbaiki.
Hanya dengan refleksi, kita dapat menemukan kelemahan dan kekurangan untuk kemudian menyempurnakannya di tahun yang baru.
Kini kita berada di titik tengah peralihan waktu. Tahun 2025 telah menjelma kenangan. Kita tak bisa menghadirkannya kembali, kecuali dengan mengingat dan memetik pelajarannya. Sementara 2026 yang segera disongsong adalah harapan—tak bisa dipaksakan kehadirannya, selain dengan kesiapan dan doa.
Dengan menghargai masa lalu dan menyiapkan diri menyambut masa depan, kita meninggalkan 2025 dan memasuki 2026 dengan jiwa yang lebih damai, sadar, dan penuh optimisme.
Penulis: Mohammad S. Gawi