![]() |
| Foto: Ketua PW PERGUNU NTT, Syufyanto Minggele, S.Kom Gr., M.Sos |
Kupang NTT — Pimpinan Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PW PERGUNU) Nusa Tenggara Timur menyampaikan pernyataan sikap resmi terkait tayangan salah satu program di stasiun televisi nasional Trans7 yang diduga melecehkan martabat kyai dan lembaga pesantren.
Ketua PW PERGUNU NTT, Syufyanto Minggele, S.Kom Gr., M.Sos, Selasa (14/10) dalam keterangan tertulisnya menegaskan bahwa tayangan tersebut telah menyinggung perasaan umat Islam, khususnya kalangan pesantren dan santri yang selama ini menjadi benteng moral bangsa.
“Kami menyesalkan dan mengecam keras bentuk tayangan yang mengandung unsur penghinaan terhadap kehidupan santri dan lembaga pesantren. Pesantren bukan sekadar tempat belajar, tetapi pusat peradaban akhlak dan ilmu yang berkontribusi besar bagi bangsa dan negara,” tegas Syufyanto.
Dalam pernyataan resmi yang diterbitkan pada 12 Rabiul Akhir 1447 H / 14 Oktober 2025 M, PW PERGUNU NTT menyampaikan lima poin sikap utama:
Menyesalkan dan mengecam keras tayangan yang dianggap melecehkan kyai dan pesantren.
Mengimbau insan media agar berhati-hati dalam mengangkat isu keagamaan, karena kebebasan pers harus dijalankan dengan etika dan tanggung jawab.
Mendukung langkah hukum dan etik yang ditempuh lembaga-lembaga terkait seperti KPI, LBH Ansor, dan PBNU dalam menjaga marwah pesantren.
Mengajak santri, guru, dan masyarakat agar tetap tenang, tidak terpancing provokasi, serta mempercayakan penyelesaian masalah melalui jalur hukum dan mekanisme resmi.
Mendesak Trans7 agar segera memberikan klarifikasi dan permintaan maaf terbuka, sekaligus memperbaiki sistem editorial untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.
Lebih lanjut, Syufyanto menegaskan bahwa menjaga kehormatan pesantren dan para kyai merupakan tanggung jawab moral seluruh umat.
“Menjaga kehormatan kyai dan pesantren adalah bagian dari menjaga martabat ilmu dan agama. Kami berharap semua pihak menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran penting agar media lebih sensitif terhadap nilai-nilai keagamaan,” pungkasnya.
PW PERGUNU NTT juga mengajak seluruh santri dan warga Nahdlatul Ulama untuk tetap menunjukkan keteladanan, menyikapi persoalan dengan adab, ilmu, dan ketegasan — tanpa meninggalkan semangat menjaga persatuan bangsa.
