| Ketua.Foto. Wahidin Sara Ketua PC IMM Kota Kupang (31/10/25) |
Oleh: Wahidin Sara
Kupang- Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai gerakan intelektual, religius, dan sosial kemasyarakatan kini dihadapkan pada tantangan besar dalam menjalankan fungsi utamanya sebagai gerakan kader. Dinamika organisasi di era digital dan politik pragmatis telah mengguncang fondasi nilai ideologis IMM, menimbulkan pertanyaan mendasar: masihkah IMM menjadi gerakan pembebasan, ataukah sekadar struktur administratif yang kehilangan ruh?
Krisis Kaderisasi dan Pragmatisme Gerakan
Fenomena di lapangan menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan. Banyak kader mengikuti Darul Arqam Dasar (DAD) hanya sebagai syarat administratif untuk naik ke jenjang struktural, bukan sebagai proses pembentukan ideologis yang mendalam. Akibatnya, proses kaderisasi menjadi kering secara nilai dan kehilangan substansi ideologis.
Budaya pragmatisme struktural semakin menguat. Jabatan lebih sering diperebutkan daripada dijadikan amanah dakwah. Kondisi ini menimbulkan kesenjangan antara idealisme IMM sebagai gerakan nilai dan praktik lapangan yang cenderung elitis serta kehilangan orientasi sosial-transformatifnya.
Padahal, IMM sejatinya lahir sebagai gerakan moral yang menegakkan nilai-nilai Islam dan kemanusiaan dalam kehidupan kampus dan masyarakat. Bila kader hanya sibuk pada jabatan tanpa internalisasi nilai, maka gerakan intelektual Islam ini akan kehilangan daya kritis dan ruh pergerakannya.
Nilai-Nilai sebagai Pilar Relasi Politik IMM
IMM perlu menegaskan kembali posisi dan relasinya dengan politik kebangsaan. Politik bagi IMM bukanlah ruang untuk mencari kekuasaan, melainkan media untuk memperjuangkan nilai-nilai etik dan moral Islam.
Dalam konteks itu, ada tiga pilar utama yang harus menjadi fondasi gerakan politik IMM:
Nilai Islam – Menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber etik politik, menolak segala bentuk penyimpangan seperti politik uang, manipulasi kekuasaan, dan pragmatisme politik.
Nilai Kemahasiswaan – IMM sebagai organisasi intelektual harus bersikap kritis, rasional, dan independen terhadap fenomena politik, tidak terseret arus kepentingan partisan.
Nilai Keindonesiaan – IMM berkomitmen menjaga integritas nasional dan demokrasi berkeadaban, menolak praktik politik yang memecah belah bangsa.
Ketiga nilai tersebut seharusnya menjadi kompas moral IMM dalam berinteraksi dengan dunia politik, bukan sekadar legitimasi untuk ikut arus kekuasaan.
Kecenderungan Politik Liberal dan Tantangan Moral Bangsa
Perkembangan politik Indonesia saat ini menunjukkan kecenderungan yang semakin liberal—kompetisi politik semakin keras, relasi kuasa semakin transaksional, dan oligarki politik kian menguat. Fenomena politik uang, pragmatisme partai, hingga keterlibatan tokoh agama dalam politik praktis menunjukkan semakin kaburnya batas antara moralitas dan kekuasaan.
Dalam buku Gerakan Islam Berkemajuan, Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir menegaskan bahwa demokrasi Indonesia masih bersifat prosedural—menekankan aspek formal pemilu tanpa diiringi kedewasaan substansial. Pemilu menjadi ritual lima tahunan yang sering kali kehilangan makna keadilan dan moralitas.
Sistem politik yang tidak jelas—antara proporsional, distrik, atau campuran—menyuburkan praktik jual beli suara dan rivalitas internal yang tajam. Akibatnya, demokrasi berjalan tanpa integritas, dan keadilan publik terpinggirkan.
Refleksi untuk IMM: Kembali ke Akar Nilai
Dalam situasi seperti ini, IMM harus tampil sebagai kekuatan moral bangsa. IMM tidak boleh terjebak dalam politik partisan, tetapi justru harus menjadi pelopor politik nilai—politik yang memihak pada keadilan, kemanusiaan, dan peradaban.
Gerakan kader harus kembali pada semangat intelektual yang kritis dan religius yang membebaskan. Hanya dengan cara itu, IMM akan tetap relevan sebagai laboratorium kepemimpinan dan moralitas bangsa.
IMM tidak boleh menjadi penonton di tengah krisis moral politik, tetapi juga tidak boleh menjadi pelaku pragmatis dalam pusaran kekuasaan. IMM harus berdiri di tengah — sebagai penegak nilai, bukan pemburu posisi.



