Tiga Legenda Hidup di Balik Pers NTT

Herry FF Battileo, Rusydi S. Maga, dan Andre Lado, tiga tokoh senior yang memiliki perjalanan panjang dalam perkembangan pers Nusa Tenggara Timur dari era konvensional hingga digital.
KOTA KUPANG — Perjalanan pers di Nusa Tenggara Timur tidak hanya dibangun oleh institusi media, tetapi juga oleh individu yang menghabiskan sebagian hidupnya di balik kamera, meja redaksi, halaman cetak, hingga ruang digital.
Di antara nama yang memiliki perjalanan panjang tersebut adalah Herry FF Battileo, S.H., M.H., Rusydi S. Maga, S.H., dan Andre Lado, S.H. Ketiganya datang dari lintasan pengalaman berbeda, tetapi memiliki persamaan dalam ketekunan membangun ekosistem pers NTT sekaligus beradaptasi dengan perubahan zaman.
Ketiganya dikenal sebagai bagian dari generasi senior yang menyaksikan secara langsung transformasi dunia jurnalistik, dari era media konvensional menuju lanskap digital.
Herry Battileo: Dari Kamera RCTI hingga Membangun Media
Nama Herry FF Battileo memiliki perjalanan panjang dalam dunia media di NTT. Kariernya bermula sebagai kamerawan RCTI, ketika kerja jurnalistik sangat bergantung pada perangkat kamera, kaset, proses penyuntingan, serta mobilitas tinggi di lapangan.
Dari balik kamera, Herry memahami bagaimana sebuah peristiwa direkam, dikemas, dan diolah menjadi informasi yang memiliki nilai berita.
Perjalanan tersebut kemudian membawanya ke posisi Pemimpin Redaksi Top TV. Pengalaman di televisi memperluas pemahamannya mengenai produksi berita, manajemen redaksi, hingga bagaimana sebuah media membangun karakter di tengah persaingan informasi.
Tidak berhenti di dunia televisi, Herry kemudian memasuki media cetak dan digital. Ia mendirikan Surya Inside yang berkembang dari media berbentuk tabloid hingga media online.
Lintasan tersebut menunjukkan kemampuan beradaptasi dengan perubahan medium jurnalistik.
Dari kamera televisi, ruang redaksi, media cetak, hingga platform digital, perubahan teknologi menjadi bagian dari perjalanan profesionalnya.
Rusydi Maga dan Konsistensi Membangun Media Digital
Nama berikutnya adalah Rusydi S. Maga, S.H., yang memiliki jejak dalam perkembangan media digital di NTT.
Rusydi dikenal sebagai pendiri Zonalinenews, sebuah media yang menjadi bagian dari dinamika pertumbuhan pemberitaan digital di NTT.
Kemunculan media online mengubah pola kerja jurnalistik. Berita tidak lagi harus menunggu proses produksi cetak dan distribusi fisik. Informasi dapat dipublikasikan dengan cepat dan menjangkau pembaca dalam waktu relatif singkat.
Di tengah perubahan tersebut, Rusydi mengambil bagian dalam membangun media berbasis digital.
Perjalanannya memperlihatkan bagaimana jurnalis senior menghadapi transformasi teknologi sekaligus ikut membangun ruang pemberitaan baru.
Zonalinenews kemudian menjadi bagian dari lanskap media online yang berkembang di NTT.
Andre Lado: Dari Seni dan Tulisan Menuju Jurnalistik
Sementara itu, Andre Lado, S.H., memiliki perjalanan yang berangkat dari dunia kepenulisan dan seni.
Sekitar 2003, Andre mulai aktif menulis. Pada fase awal, ia dikenal sebagai seniman sekaligus penulis berbagai artikel. Dunia kepenulisan mempertemukannya dengan berbagai gagasan, fenomena sosial, serta realitas kehidupan masyarakat.
Sekitar 2009, Andre mulai memfokuskan diri pada profesi jurnalistik.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa seorang jurnalis tidak selalu lahir dari ruang redaksi. Ada yang berangkat dari televisi, media cetak, media digital, maupun tradisi kepenulisan dan seni.
Bagi Andre, pengalaman panjang dalam menulis menjadi salah satu modal ketika memasuki dunia jurnalistik secara lebih serius.
Tiga Lintasan, Satu Perjalanan Pers NTT
Jika dirangkai, perjalanan Herry Battileo, Rusydi Maga, dan Andre Lado menggambarkan tiga lintasan berbeda dalam perkembangan pers NTT.
Herry datang dari dunia penyiaran dan produksi televisi sebelum memperluas kiprahnya ke media cetak dan online.
Rusydi mengambil bagian dalam pertumbuhan media digital melalui pendirian Zonalinenews.
Sementara Andre membangun pengalaman dari dunia seni dan kepenulisan sebelum menjadikan jurnalistik sebagai fokus profesional.
Perbedaan latar belakang tersebut memperlihatkan luasnya ekosistem pers.
Jurnalisme bukan sekadar aktivitas menulis berita. Di dalamnya terdapat proses pengumpulan informasi, produksi, verifikasi, pengelolaan media, teknologi, jaringan, kerja lapangan, hingga kemampuan memahami perubahan perilaku pembaca.
Dari Era Cetak ke Era Digital
Perubahan media di NTT berlangsung seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi.
Generasi awal media bekerja dengan ritme yang berbeda dibandingkan era digital. Berita membutuhkan proses produksi lebih panjang. Distribusi juga bergantung pada kemampuan media mencetak dan menyebarkan produk jurnalistik kepada pembaca.
Internet kemudian mengubah sebagian besar mekanisme tersebut.
Portal berita dapat memperbarui informasi secara berkala. Jurnalis dituntut bekerja lebih cepat, sementara redaksi harus mampu mengelola arus informasi yang semakin deras.
Pada saat yang sama, kecepatan tetap harus berjalan bersama akurasi, verifikasi, dan prinsip-prinsip jurnalistik.
Dalam konteks inilah pengalaman para jurnalis senior menjadi bagian penting dari perjalanan media.
Mereka tidak hanya menyaksikan perubahan tersebut, tetapi mengalami sendiri berbagai fase transformasi, dari kamera dan ruang redaksi konvensional hingga ekosistem pemberitaan digital yang bergerak nyaris tanpa jeda.
Ikon Sebuah Generasi
Menyebut Herry Battileo, Rusydi Maga, dan Andre Lado sebagai bagian dari generasi senior pers NTT bukan semata karena panjangnya perjalanan mereka.
Ketiganya merepresentasikan generasi yang mengalami langsung perubahan fundamental dalam dunia media.
Mereka bekerja pada masa ketika jurnalistik membutuhkan ketekunan dan daya tahan tinggi, kemudian beradaptasi ketika teknologi mengubah cara berita diproduksi, didistribusikan, dan dikonsumsi masyarakat.
Kini, kekuatan media tidak hanya ditentukan oleh mesin cetak atau studio televisi. Infrastruktur digital, jaringan informasi, kecepatan distribusi, dan kemampuan membangun komunitas pembaca menjadi bagian penting dalam ekosistem media.
Di tengah perubahan tersebut, pengalaman lapangan tetap menjadi modal penting yang melengkapi perkembangan teknologi.
Menjaga Tradisi di Tengah Perubahan
Perjalanan ketiga tokoh tersebut pada akhirnya bukan hanya cerita tentang individu. Mereka merupakan bagian dari perjalanan panjang pers NTT tentang bagaimana jurnalisme tumbuh, beradaptasi, dan menemukan bentuk baru.
Herry Battileo dengan perjalanan dari kamera RCTI hingga membangun media.
Rusydi Maga dengan kiprahnya mendirikan Zonalinenews.
Andre Lado dengan perjalanan dari dunia seni dan kepenulisan menuju jurnalistik.
Tiga nama, tiga lintasan, satu bentang sejarah: perjalanan pers Nusa Tenggara Timur.
Di tengah derasnya arus informasi digital, perjalanan mereka menjadi catatan bahwa media bukan semata-mata persoalan teknologi.
Di balik setiap platform, terdapat manusia yang merintis, bekerja, belajar dari lapangan, menghadapi perubahan, dan berupaya mempertahankan nilai jurnalistik dalam menyampaikan informasi kepada publik.
Karena itu, bagi lingkungan pers NTT, Herry FF Battileo, Rusydi S. Maga, dan Andre Lado dapat dipandang sebagai tiga sosok senior yang merepresentasikan perjalanan panjang pers dari era konvensional menuju era digital—sebuah perjalanan yang turut mewarnai wajah media NTT hari ini. (*) Tim