Siswa SMK Negeri 6 Kupang Perdalam Kompetensi Pemrograman dan IoT melalui PKL di BOE Malang

Muhammad Galang Makara, siswa kelas XII PPLG 1 SMKN 6 Kupang, bersama pembimbing dan tim BOE Malang usai mengikuti kegiatan PKL dan pembelajaran pemrograman serta IoT.
MATALINENEWS.ID — Praktik Kerja Lapangan (PKL) menjadi salah satu sarana penting bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk memperkuat kompetensi sekaligus memperoleh pengalaman belajar yang lebih dekat dengan kebutuhan dunia kerja. Hal tersebut dirasakan oleh Muhammad Galang Makara, siswa kelas XII PPLG 1 SMK Negeri 6 Kupang, yang melaksanakan PKL di BOE Malang.
Selama menjalani PKL, Galang mendapatkan pendampingan dari Dr. Eko Subiyanto, S.Pd., MT, dengan fokus pembelajaran pada pemrograman, pengembangan aplikasi berbasis web, serta integrasi software dan hardware melalui teknologi Internet of Things (IoT).
Menurut Dr. Eko, secara umum kemampuan dasar Galang sudah cukup baik ketika pertama kali mengikuti program magang. Namun, selain keterampilan teknis, aspek karakter, semangat, kemauan belajar, fokus, dan kemampuan beradaptasi menjadi hal yang tidak kalah penting.
“Untuk Mas Galang ini, sebenarnya skill dan pengetahuan dasarnya cukup bagus. Mungkin yang perlu ditingkatkan adalah semangatnya dan kemauan untuk belajar lebih keras,” ujar Dr. Eko.
Ia menilai perkembangan teknologi yang sangat cepat menuntut siswa maupun guru untuk terus beradaptasi. Kehadiran teknologi kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT, menurutnya, semakin memudahkan proses belajar, tetapi tetap membutuhkan fokus dan kemauan belajar dari siswa.
“Yang paling penting semua karakter atau sikapnya. Lebih semangat, apalagi jauh dari orang tua. Dalam waktu hampir dua bulan ini sudah luar biasa dan nanti akan banyak hal yang dia dapat. Yang penting setelah PKL ini, pengalaman tersebut menjadi bekal yang baik untuk kehidupannya,” jelasnya.
Dalam proses pembelajaran di BOE Malang, Galang mempelajari sejumlah teknologi yang sebelumnya belum pernah dipelajarinya secara mendalam. Ia mengaku bahwa pada hari-hari pertama harus menyesuaikan diri, terutama karena belum pernah belajar Python.
“Pertama belajar Python, kemudian framework-nya yaitu Flask, kemudian belajar SVG,” ungkap Galang.
Pembelajaran kemudian berkembang ke pembuatan aplikasi berbasis web. Galang mempelajari bagian front end serta JavaScript sebelum masuk pada penerapan IoT dan konsep Digital Twin.
Salah satu proyek yang dikerjakannya adalah Smart Home. Dalam proyek tersebut, Galang membuat tampilan sebuah ruangan yang dilengkapi berbagai perangkat, seperti televisi, jendela, serta alat pengukur suhu dan kelembapan. Sistem tersebut kemudian dikembangkan agar dapat terhubung dengan perangkat keras secara real-time.
“Di minggu kedua atau minggu ketiga baru masuk pada IoT. Di situlah IoT digabungkan dengan Digital Twin yang tadi belajar SVG,” jelasnya.
Selain Smart Home, Galang juga mengerjakan sejumlah proyek lain, di antaranya Water Tank, serta beberapa proyek pengembangan buku pada Bab 2 dan Bab 3 yang masih dalam proses.
Pengalaman PKL tersebut memberikan pengalaman baru bagi Galang, khususnya dalam menggabungkan kompetensi pemrograman dengan perangkat keras. Ia juga mengaku mendapatkan lingkungan belajar yang mendukung.
“Orang-orang di sini baik, teman-temannya juga baik. Guru pembimbingnya juga baik, diajarkan pelan-pelan sampai paham. Dengan pembelajaran dari Pak Eko jadi gampang untuk dipahami,” katanya.
Dr. Eko menjelaskan bahwa pembelajaran yang diberikan tidak hanya berfokus pada pemrograman dasar, tetapi diarahkan pada kompetensi yang relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri. Menurutnya, Python, HTML, CSS, dan JavaScript merupakan kompetensi dasar yang penting untuk dikuasai siswa PPLG.
Ia juga menekankan pentingnya kemampuan mengintegrasikan software dengan hardware. Menurutnya, kemampuan tersebut akan menjadi salah satu kompetensi yang tetap memiliki nilai penting di tengah perkembangan AI.
“Kalau software saja, orang di luar bidang TI pun sekarang sudah bisa membuat aplikasi dengan menggunakan prompt. Tetapi kalau hardware, tetap membutuhkan tenaga khusus. Tidak semua orang bisa memahami hardware,” jelas Dr. Eko.
Karena itu, ia berharap sekolah dapat terus menyesuaikan materi pembelajaran dengan perkembangan teknologi sehingga siswa yang mengikuti PKL di dunia industri dapat lebih cepat beradaptasi dan tune-in dengan lingkungan kerja.
Hal senada disampaikan Syufyanto Minggele, S.Kom., M.Sos., pembimbing dari SMK Negeri 6 Kupang. Ia menjelaskan bahwa Galang merupakan siswa yang dikirim sekolah untuk mengikuti PKL di BOE Malang. Seluruh biaya pelaksanaan PKL, mulai dari tiket perjalanan hingga kebutuhan tempat tinggal selama berada di Malang, ditanggung oleh orang tua siswa.
Setelah melakukan monitoring terhadap Galang, Syufyanto melihat adanya perkembangan kompetensi yang signifikan. Konsep yang sebelumnya dipelajari di sekolah, khususnya dalam pembuatan software atau aplikasi, dapat dikembangkan lebih jauh dengan mengintegrasikannya dengan hardware melalui teknologi IoT.
“Konsep yang selama ini didapatkan di sekolah, misalkan tahapan praktik membuat software atau aplikasi, setelah sampai di BOE Malang dimix atau dipadukan dengan hardware. Jadi perpaduan software dan hardware menggunakan IoT dan hasilnya sangat luar biasa,” ungkap Syufyanto.
Salah satu penerapannya terlihat dalam proyek Smart Home. Melalui aplikasi yang dibuat, siswa dapat melakukan pengontrolan terhadap sejumlah perangkat elektronik dalam ruangan, seperti lampu, kipas angin, dan televisi.
Dalam proses tersebut, Galang juga menggunakan berbagai perangkat lunak pendukung, di antaranya Thonny, JavaScript, Visual Studio Code, serta teknologi lainnya yang menunjang proses pengembangan aplikasi dan IoT.
Menurut Syufyanto, pengalaman PKL di luar daerah memberikan dampak positif terhadap peningkatan kompetensi siswa. Ia berharap pengalaman serupa dapat menjadi motivasi bagi siswa SMK Negeri 6 Kupang lainnya, termasuk siswa kelas X dan XI, untuk memiliki keinginan memperluas pengalaman belajar melalui PKL di luar daerah.
“Ini memberi dampak terhadap SDM yang berkualitas dan bermutu dalam mengembangkan teknologi informasi dan komunikasi, khususnya bahasa pemrograman yang dipelajari selama bersekolah di SMK Negeri 6 Kupang,” ujarnya.
Sementara itu, Galang berharap pengalaman yang diperolehnya selama PKL dapat menjadi motivasi bagi adik-adik kelasnya untuk berani mencari pengalaman belajar yang lebih luas.
“Kalau ingin fokus dan ingin menimba ilmu yang lebih luas lagi, mungkin bisa ke sini. Karena di BOE ini orang-orangnya hebat semua dengan pembimbing-pembimbing yang hebat. Jadi ilmunya juga lebih gampang dicerna di sini,” tutur Galang.
Pelaksanaan PKL Galang di BOE Malang menunjukkan bahwa pembelajaran vokasi tidak hanya berhenti pada penguasaan teori dan praktik di sekolah. Melalui pengalaman langsung di lingkungan kerja, siswa memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kompetensi teknis, kemampuan beradaptasi, kedisiplinan, serta karakter dan semangat belajar.
Pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal bagi Muhammad Galang Makara untuk terus mengembangkan kompetensinya di bidang pemrograman, IoT, dan teknologi informasi sekaligus menjadi inspirasi bagi siswa SMK Negeri 6 Kupang lainnya untuk terus meningkatkan kemampuan dan kesiapan menghadapi perkembangan dunia kerja dan teknologi. (Fd)