Puisi Reflektif: Angin dan Kebenaran
![]() |
| Foto Penulis: Erlinds Apriana |
MATALINENEWS.ID - Di hari itu, mentari siang membakar tanah kota kami. Angin pun berembus, membawa debu yang beterbangan, seperti rasa yang lama dipendam di dalam dada. Ada gejolak yang ingin dimuntahkan, ada kata-kata yang ingin dilahirkan, namun semuanya masih tertahan, diredam sekuat tenaga dengan sisa kekuatan yang ada.
Gunung tetap berdiri tegak di tempatnya, meski awan hitam menutup puncaknya. Demikian pula hati. Walau diselimuti prasangka manusia, hati yang jernih akan selalu mencari jalan menuju terang.
Sungai mengalir tanpa henti. Ia terus melaju, tak peduli pada batu-batu yang menghadang perjalanan. Begitu pula kebenaran. Ia akan menemukan jalannya sendiri, meski berkali-kali ditutup oleh dusta, meski berulang kali ditahan oleh kekuasaan yang semu.
Burung-burung di langit terbang bebas. Mereka tak peduli pada siapa yang iri melihat sayapnya mengepak di udara. Begitu pula jiwa. Tak perlu menghabiskan energi hanya untuk menyenangkan semua orang. Sebab, apa yang kita miliki di dunia ini bukanlah sesuatu yang kekal. Semuanya hanyalah titipan yang kelak akan kembali kepada Sang Pemilik kehidupan.
Maka, biarlah waktu menjadi saksi. Biarlah doa menjadi pelabuhan terakhir bagi segala keresahan. Biarlah angin menerbangkan segala persoalan yang tak mampu kita selesaikan dengan tangan sendiri.
Pada akhirnya, hati akan kembali kepada fitrahnya: tenang, jernih, dan lapang. Dari hati yang demikian, lahirlah cahaya bagi keluarga, keteguhan bagi diri sendiri, dan keyakinan bahwa kebenaran tidak pernah benar-benar kehilangan jalan pulang.
Penulis: Erlinda Apriana (Guru SMK Negeri 6 Kupang)
