Merajut Kebangsaan dari Bumi Alor, Refleksi Kemerdekaan Indonesia dari Daerah Perbatasan

sudarto_lukman_lema
Sudarto Lukman Lema, M.Pd., Ketua Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan STKIP Muhammadiyah Kalabahi.

Merajut Kebangsaan dari Bumi Alor

(Refleksi Kemerdekaan Indonesia dari Daerah Perbatasan)

Oleh: Sudarto Lukman Lema, M.Pd.

Ketua Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan STKIP Muhammadiyah Kalabahi


Hari Kemerdekaan Republik Indonesia senantiasa menjadi momentum sakral untuk mengenang sekaligus merefleksikan perjalanan panjang perjuangan bangsa. Kemerdekaan bukan sekadar peristiwa sejarah yang diperingati setiap bulan Agustus, melainkan ruang kehidupan yang harus terus dirawat, diperkaya, dan dimaknai dalam setiap helaan kehidupan bersama.


Karena itu, peringatan kemerdekaan semestinya menjadi kesempatan untuk bertanya kembali: sejauh mana nilai-nilai Pancasila benar-benar telah mengakar dalam kehidupan kita? Sejauh mana kemerdekaan telah menghadirkan keadilan, persatuan, dan kesempatan yang setara bagi seluruh anak bangsa, termasuk mereka yang hidup di wilayah perbatasan dan kepulauan?


Kemerdekaan Indonesia yang kita nikmati hari ini berdiri kokoh di atas fondasi keberagaman. Toleransi, persaudaraan, dan kebersamaan bukan sekadar slogan kebangsaan, melainkan jalan hidup yang harus terus dipraktikkan dan diwariskan dari generasi ke generasi.


Sebagai masyarakat Alor, saya memaknai kemerdekaan setidaknya melalui dua pilar penting: penguatan karakter bangsa melalui pendidikan dan pelestarian kearifan lokal sebagai landasan persatuan.


Merawat Taramiti Tominuku sebagai Jiwa Pancasila


Di bangku sekolah hingga perguruan tinggi, Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan kerap diperkenalkan melalui teks hukum, konstitusi, lembaga negara, serta struktur ketatanegaraan. Semua itu penting. Namun, semangat kewarganegaraan yang hidup sesungguhnya tidak hanya tumbuh dari ruang kelas. Ia juga tumbuh dari kebudayaan dan pengalaman hidup masyarakat.


Para leluhur Alor telah mewariskan filosofi kehidupan yang sangat kaya, yakni Taramiti Tominuku—sebuah semangat untuk duduk bersama, berdiri bersatu, dan saling merangkul.


Nilai tersebut pada hakikatnya memiliki kedekatan yang kuat dengan prinsip-prinsip Pancasila, terutama semangat gotong royong, persaudaraan, kebersamaan, dan musyawarah.


Kita dapat melihat spirit itu dalam tradisi Lego-lego, ketika tangan-tangan saling bertaut membentuk lingkaran dan bergerak bersama mengelilingi mesbah. Di sana, perbedaan suku, agama, maupun latar belakang sosial tidak menjadi alasan untuk berdiri sendiri-sendiri. Semua bergerak dalam satu irama, mengikuti syair dan lantunan yang menyatukan.


Lego-lego dengan demikian bukan sekadar sebuah tarian tradisional. Ia merupakan simbol tentang bagaimana masyarakat Alor memaknai kebersamaan.


Nilai persaudaraan lintas agama dan suku yang diwariskan para leluhur menunjukkan bahwa keberagaman dan gotong royong bukanlah gagasan baru bagi masyarakat Alor. Nilai-nilai tersebut telah tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat, baik di wilayah pesisir maupun pegunungan.


Karena itu, mengintegrasikan kembali kearifan lokal seperti Taramiti Tominuku ke dalam pendidikan karakter generasi muda merupakan langkah penting. Nasionalisme tidak seharusnya menjadi konsep yang terasa jauh dan asing. Nasionalisme justru harus tumbuh dari pengalaman sehari-hari, dari budaya sendiri, dari lingkungan tempat seseorang dilahirkan dan dibesarkan.


Dengan demikian, mencintai Indonesia tidak berarti meninggalkan identitas lokal. Sebaliknya, kecintaan terhadap budaya dan identitas lokal dapat menjadi salah satu jalan untuk memperkuat kecintaan kepada Indonesia.


Tantangan Kemerdekaan di Abad ke-21


Jika dahulu kemerdekaan diuji oleh kekuatan kolonial dan perjuangan bersenjata, maka tantangan kemerdekaan pada abad ke-21 hadir dalam bentuk yang berbeda.


Kita berhadapan dengan disrupsi informasi, penyebaran berita palsu, polarisasi di ruang digital, terkikisnya etika publik, serta ketimpangan akses terhadap pendidikan dan peluang ekonomi, terutama di wilayah-wilayah terpencil dan kepulauan.


Bagi masyarakat Alor, mempertahankan kemerdekaan berarti melanjutkan perjuangan untuk menghadirkan keadilan sosial, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memastikan bahwa letak geografis tidak menjadi alasan untuk tertinggal.


Di sinilah pendidikan memainkan peran strategis.


Kita perlu membangun generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter kewarganegaraan yang kuat. Generasi muda Alor harus mampu berpikir kritis, menggunakan teknologi dan media sosial secara bijak, menghargai perbedaan, menjaga etika dalam berkomunikasi, serta memiliki kebanggaan terhadap identitas lokal sekaligus identitas nasional.


Kemajuan teknologi tidak boleh membuat generasi muda tercerabut dari akar budayanya. Justru teknologi harus dimanfaatkan untuk mendokumentasikan, memperkenalkan, dan mengembangkan kekayaan budaya lokal agar dikenal lebih luas oleh masyarakat Indonesia bahkan dunia.


Dalam konteks ini, pendidikan tidak hanya bertugas mencetak manusia yang mampu menjawab kebutuhan pasar kerja. Pendidikan juga harus membentuk warga negara yang memiliki tanggung jawab sosial, kesadaran kebangsaan, dan komitmen terhadap kehidupan demokratis.


Meneguhkan Komitmen Bersama untuk Masa Depan Bangsa


Menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, momentum ini seharusnya kita manfaatkan untuk memperkuat kolaborasi antara akademisi, pemerintah, tokoh adat, tokoh agama, pendidik, generasi muda, dan seluruh elemen masyarakat.


Kemerdekaan Indonesia adalah rumah bersama. Rumah itu berdiri di atas keberagaman yang membentang dari Sabang sampai Merauke, serta dari Miangas hingga Rote.


Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, khususnya sebagai masyarakat Alor, kita memiliki tanggung jawab untuk merawat rumah besar tersebut. Kita perlu terus bergandengan tangan, sebagaimana tangan-tangan yang bertaut dalam tarian Lego-lego.


Kemerdekaan sejati tercapai ketika nilai-nilai Pancasila tidak berhenti di halaman buku pelajaran atau dalam pidato-pidato seremonial. Nilai-nilai itu harus hadir dalam tindakan nyata: dalam cara kita menghormati perbedaan, memperlakukan sesama, membangun pendidikan, menjaga kebudayaan, memperjuangkan keadilan, dan menyiapkan generasi masa depan.


Dari Bumi Nusa Kenari, pesan itu patut terus digaungkan: bahwa menjaga Indonesia dapat dimulai dari menjaga persaudaraan di lingkungan sendiri; memperkuat bangsa dapat dimulai dari memperkuat pendidikan; dan merawat kebinekaan dapat dimulai dari menghargai kearifan lokal yang telah diwariskan para leluhur.


Kemerdekaan bukanlah garis akhir dari sebuah perjuangan. Kemerdekaan adalah amanah yang harus terus diisi dengan kerja, pengabdian, persaudaraan, dan tanggung jawab kebangsaan.


Mari merajut kebangsaan dari tanah Alor. Mari menjadikan Taramiti Tominuku bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga semangat hidup dalam membangun Indonesia yang maju, berdaulat, adil, dan kaya akan budaya.


Taramiti Tominuku — belajar dan mengabdi untuk bangsa!

Oleh: Sudarto Lukman Lema, M.Pd. (Ketua Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan STKIP Muhammadiyah Kalabahi)

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Merajut Kebangsaan dari Bumi Alor, Refleksi Kemerdekaan Indonesia dari Daerah Perbatasan
  • Merajut Kebangsaan dari Bumi Alor, Refleksi Kemerdekaan Indonesia dari Daerah Perbatasan
  • Merajut Kebangsaan dari Bumi Alor, Refleksi Kemerdekaan Indonesia dari Daerah Perbatasan
  • Merajut Kebangsaan dari Bumi Alor, Refleksi Kemerdekaan Indonesia dari Daerah Perbatasan
  • Merajut Kebangsaan dari Bumi Alor, Refleksi Kemerdekaan Indonesia dari Daerah Perbatasan
  • Merajut Kebangsaan dari Bumi Alor, Refleksi Kemerdekaan Indonesia dari Daerah Perbatasan